www.Dr-RonnySucahyo.com

Mendidik Anak Meraih Sophronosmos

Mr.Hubert berusia 72 tahun dan tinggal sebatang kara karena istrinya sudah meninggal dunia. Dari tiga orang anaknya, dua sudah menikah dan tinggal di lain kota. Anak gadis bungsunya bernama Marie adalah ‘anugerah yang tidak terduga’ karena lahir di saat Mr.Hurbert sudah berusia 52 tahun. Marie kuliah di sebuah universitas yang berjarak 10km dari sang Ayah.

Sore itu Marie yang tinggal di kost, menelpon Mr.Hurbert, membatalkan janji dinner mereka yang sudah direncanakan seminggu sebelumnya.

“Aku ada belajar bersama-sama dengan teman-teman kuliah di perpustakaan Kota, Pap.”

“Its okay, Marie. Nevermind. Next time kita bisa dinner berdua.” Kata Mr.Hurbert.

Malam itu Mr.Hurbert makan sendirian seperti biasa, lalu dia membawa makanan dan minuman untuk Marie.

Setelah menyetir sejauh 10km, Mr.Hurbert tiba di Perpustakaan Kota, tetapi dia tidak menemukan Marie di sana. Petugas Perpustakaan pun tidak menemukan Marie di daftar tamu. Mr.Hurbert akhirnya memutuskan pergi dan mulai menyetir pelan-pelan di daerah itu.

Tanpa sengaja dia melihat Marie sedang duduk di sebuah Café outdoor, sedang makan dan minum bersama beberapa temannya. Setelah memarkir mobilnya, Mr.Hurbert berjalan menemui Marie yang sangat terkejut melihat Papanya berdiri wajah sendu.

“Pap..” sapa Marie dengan wajah pucat dan perasaan malu.

“Marie, Papa sudah bilang berkali-kali, papa bisa menerima semua bentuk kejujuranmu. Apapun yang kau lakukan, asal engkau jujur, papa tidak akan terluka. Tetapi jika anak gadis yang papa besarkan dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab kemudian bisa berbohong pada Papa, ini sulit untuk papa mengerti. Apa salah papa?”

Marie terdiam. Bibirnya terkunci, tidak tahu harus berkata apa. Ia tahu, kata maaf tidaklah cukup kuat untuk menghapus kekecewaan papanya.

“Marie, kamu masuk mobil dan setirlah mobil untuk antar papa pulang ke rumah.”

Ketika Marie sudah duduk di kursi driver, Mr.Hurbert tidak ikut masuk.

“Nyalakan lampu, menyetirlah perlahan di belakang papa. Papa akan berjalan kaki sampai ke rumah.” Kata Mr.Hurbert.

Malam itu, Mr.Hurbert berjalan kaki sepanjang 10km, menempuh sekitar 2,5 jam perjalanan dengan tongkat kayu yang membantunya berjalan.

Dengan mata berlinang Marie melihat papanya menghukum dirinya sendiri dan mendidik Marie dengan caranya.

“Dua jam terburuk sekaligus terbaik dalam hidupku.” Kata Marie. “Sejak malam itu aku berjanji tidak akan pernah berbohong pada Papa. Dia menghukum dirinya sendiri karena merasa gagal mendidikku untuk jujur padanya. Padahal akulah yang bersalah”

Dr.Ronny Sucahyo

Leave a Reply