www.Dr-RonnySucahyo.com

Akhir Kami Mencapai Puncak Gunung Sinai!

Kami berangkat jam 10.30 malam, tiba di pangkalan “taksi” berupa mobil tua seperti angkot, menuju pangkalan Onta sekitar 10 menit. Dari Pangkalan Onta itu kami mulai tersebar secara acak, tidak bisa memilih dengan siapa kita berdekatan karena ukuran onta berbeda – disesuaikan dengan ukuran kita, kecepatan jalan onta juga berbeda, lalu kondisi fisik onta juga berbeda. Ada onta yang sudah lelah, ada yang masih fresh.

Sepanjang jalan saya mengantongi asinan mangga di saku jaket saya, sangat membantu hobi saya ngemil ketika sedang do nothing, bored juga duduk di onta dengan perasaan campur aduk tegang dan senang. Tapi Puji Tuhan ketakutan akan rasa ngantuk sama sekali tidak terjadi. Kami betul-betul terjaga dengan mata terang, dibantu bintang-bintang di langit sehingga tidak sampai gelap gulita.

Yang agak bikin jantungan adalah Onta suka mepet tembok pengaman. Mungkin itu cara dia untuk menandai jalan karena tidak setiap onta dijaga satu orang suku badui. what? iya. Satu orang suku badui (rata-rata masih 15-18 tahun usia), mengawasi 2 onta.Ketika si Onta ini berjalan mepet ke tembok, Anda yang diatas ketinggian Onta akan merasakan sensasi adrenalin dan reflek memegang erat kayu di depan Anda untuk mempertahankan posisi agar tidak terjatuh. Sebenarnya tidak seseram itu, tetapi tentu saja hampir semua orang yang naik ke Sinai adalah first time mereka!

Ketika Onta Lelah, jalannya akan sempoyongan. Mereka akan terus berusaha jalan ketika mendapatkan perintah untuk berjalan, tapi akan berbahaya sekali jika tiba-tiba tenaga mereka habis.  Onta di depan saya kebetulan dinaiki oleh Ibu Gembala GPDI di Bratang Surabaya, Ibu Rini.  Saya lihat sendiri ontanya sempoyongan. Saya panggil si pemuda badui, dia langsung menghentikan ontanya dan memberi minum dengan cara menekan punuk si onta!

Perjalanan dengan onta sungguh tidak enak, menyiksa terutama jika tubuh Anda cukup besar dan Anda laki-laki :p

Tempat perhentian sementara di tengah-tengah adalah akhir dari bantuan Onta. Tempat ini dinamakan mereka “starbuck” karena menjual kopi dan minuman lainnya.  Dari tempat ini kita harus naik ke puncak dengan jalan kaki.

Saya beruntung bertemu dengan beberapa turis dari berbagai negara. Salah satu rombongan turis dari Slovenia bercerita mereka punya akses ke gereja koptik di puncak sinai karena dari sinode yang sama.

Naik ke puncak Sinai tidak mudah untuk first timer, karena oksigen yang tipis. Anda harus sabar pada diri sendiri dan sabar pada rekan seperjalanan jika ingin sama-sama selamat sampai di puncak. Jangan malu-malu untuk berhenti setiap beberapa tapak anak tangga.  Demi keselamatan nyawa Anda sendiri.

Setelah melalui perjalanan yang seru, saling tolong menolong, terutama membantu mereka yang sudah berusia di atas 50, kami tiba di puncak.

Di sini saya diberi tugas kepercayaan untuk membawakan Firman Tuhan.  Selesai FT dan berdoa sebentar, kami sempatkan take video berikut ini.

Jika kami bisa sampai ke Puncak Sinai, saya berdoa Anda juga bisa mencapainya. Kami juga sempat membuat ucapan selamat natal dari puncak Sinai.

Perjalanan turun kami full dengan kaki, tanpa onta. Ini lebih berat karena menahan berat badan sendiri untuk sampai ke dasar. Licin dengan pasir dan juga harus menolong rekan-rekan yang berat badannya berlebih. :p

Tapi pemandangan yang luar biasa Indah benar-benar membuat Lelah kami terbayar lunas!

Ini cantic atau ganteng Ontanya?

Sunrise di Sinai? kami sudah!

Saya juga sempat memotret Pdt.Budi dari GBI Rock Surabaya, masuk juga dalam scene, Monica dan Ibu Mega 🙂

Foto-foto di atas sama sekali tidak bisa mewakili apa yang kami lihat dan rasakan di sana. Beda jauh. Kamera terbaik adalah mata kita dan kamera yang dibuat oleh teknologi di jaman ini masih terlalu muda untuk menyaingi mata ciptaan Tuhan.

Sinai Mt was definitely one of my fave ever for Holy Land Tour.

Thank God, for brought us there.

Shallom!

Dr.Ronny Sucahyo

Leave a Reply