www.Dr-RonnySucahyo.com

Inari Kute: Seorang Wanita Yang Lebih Mahal Dari Emas

Wanita bernama Inari itu menangis terisak-isak dihadapan seorang bijak bernama Deroul. Dia seorang wanita berusia sekitar 21 tahun yang sedang patah hati karena ‘batal kawin’.  Orang tua eks pasangannya yang awalnya setuju dengan hubungan mereka, mendadak tidak setuju tanpa sebab yang jelas.  Ketika didesak apa alasannya mengakhiri hubungan, eks pasangannya hanya berdiam diri.Sampai kemudian Inari melihat eks pasangannya itu berpelukan mesra dengan wanita lain. Dia telah dikhianati!  “Sakit hati obatnya apa ya?” tanyanya.  Deroul tersenyum, “menurut saya kamu tidak sakit hati. Kamu normal, hanya saja kamu sedang mengasihani dirimu sendiri yang kau anggap lemah.”

Tangis Inari mereda, lalu menatap mata Deroul. “begitu ya? Jadi apa yang harus kulakukan?” tanyanya.  Deroul tersenyum lagi.  “Jika ada sekuntum bunga yang dijual di pasar dan tidak ada seorangpun yang membelinya, pilihannya ada dua.  Membuang bunga itu, atau menghiasi bunga itu menjadi lebih indah dan menjualnya di pusat kota.  Bunga itu akan laku terjual dengan harga yang jauh lebih mahal karena dibeli oleh seseorang yang jauh lebih mampu menghargai keindahan bunga itu.”

Pesan Deroul itu membekas dihati Inari sampai Inari berusia 24 tahun. Dia bergabung bersama banyak teman-temannya, ikut bekerja kepada seorang yang hebat dan kaya raya bernama Mansa Musa untuk mencari nafkah.

Di suatu sore hari ada seorang pria yang memakai cadar menghampiri Inari dan kawan-kawannya ketika mereka sudah selesai bekerja.  Inari belum pernah melihat orang itu sebelumnya.

“Aku ingin menitipkan barangku pada kalian selama 1 hari saja. Karena aku sedang ada keperluan ke luar kota. Bersediakah kalian menjaganya untukku? Aku akan memberikan imbalan satu koin emas untuk kalian masing-masing.”

Barang itu berupa satu karung yang sangat berat.  Kawan-kawannya  langsung menyetujui karena tergiur koin emas yang dijanjikan.  Begitu juga dengan Inari, tetapi dia berkata, “Tuan, perkenalkan namaku Kinari.  Kami belum mengenalmu, siapakah engkau? Dan barang apakah yang kau titipkan ini?”

Pria bercadar itu berkata, “kalian tidak perlu tahu. Tugas kalian hanyalah menjaganya selama 1 hari saja.”

Seorang kawan Inari bernama Rahelu berkata, “Inari, kau mau koin emas kan? Sudahlah, kita jaga saja. Cukuplah kita letakkan karung ini di dalam rumah, pasti aman.”

Seorang yang lain bernama Yosepine ikut berkata, “benar itu. Kita butuh koin emasnya. Jangan sampai karena kita banyak bertanya, dia jadi marah dan tidak jadi menitipkan barangnya.”

Inari berkata pada kawan-kawannya, “aku menginginkan koin emas itu, tetapi kita sedang diberi tanggung jawab yang besar. Kalau kita tidak tahu apa isi karung itu, bagaimana jika diam-diam seseorang menyelinap dan menukar isinya? Bagaimana juga jika pemilik karung itu datang lalu berkata barangnya sudah tertukar, apakah kita bisa mempercayainya jika kita tidak tahu isi barang itu? Apakah kalian mau bekerja dengan cara seperti ini?”

Pria bercadar pemilik karung itu mendengarkan pembicaraan mereka lalu berkata, “karung itu penuh berisi koin emas dan batangan emas. Aku harap kalian bersedia menjaganya, 1 hari saja.”

Rahelu lalu berkata dengan sopan, “bolehkah kami melihatnya dan menghitungnya terlebih dahulu?”

Inari lalu berkata, “menghitung seluruh koin emas tentu membutuhkan banyak waktu. Apakah Tuan punya waktu menunggu kami menghitungnya? Bagaimana jika kami menghitung batangan emasnya saja, lalu menimbang koinnya. Akan lebih menghemat waktu.”

Pria itu mendadak tertawa terbahak-bahak, “kalian tidak perlu bersusah payah.  Aku akan memperlihatkan sekilas isinya pada kalian, tidak usah kalian hitung atau timbang. Aku mempercayai kalian.”

Singkatnya pria itu pergi.  Sepanjang malam para wanita pekerja yang beristirahat di ruangan yang sama membicarakan pria itu.  Akan tetapi karena lelah, Rahelu, Yosepine dan wanita-wanita pekerja yang lain akhirnya tertidur.  Teringat karung itu, Inari menguatkan diri untuk menarik karung itu dan meletakkannya disebelahnya.  Inari lalu berbaring dengan karung itu sebagai alas kepalanya lalu tertidur.

Keesokan harinya kegaduhan terjadi.  Karung itu hilang.  Rahelu, Yosepine dan lain-lainnya langsung menyalahkan Inari atas keteledorannya.  “Kita sudah meletakkan karung itu ditengah-tengah kita.. kamu malah menaruhnya dibawah kepalamu!” kata Lenisa.

“Inari, kau yang harus bertanggung jawab, jangan libatkan kami!” kata Ernifa. Inari menarik nafas panjang dan berkata, “maafkan telat membuat kalian panik dan ketakutan. Tentu saja aku akan bertanggung jawab.”

“Aku akan menemanimu..” kata Rahelu.  “Ah, tidak usah!” kata Ernifa, “bagaimana jika orang itu ikut menuntutmu bertanggung jawab? Apa kau mau seumur hidup menanggung hutang yang tidak akan bisa kau bayar tujuh turunan?”

Rahelu menatap mata Inari lalu berkata, “aku ingin menemanimu… tetapi Ernifa benar. Aku tidak sanggup menanggung hutang sedemikian besar.. maafkan aku.”

Ketika Pria bercadar itu datang, Inari adalah satu-satunya orang yang maju dan menemuinya sementara wanita-wanita yang lain telah pergi dan tidak mau terlibat. “Tuanku, kami gagal menjaganya. Karung itu hilang atas kesalahanku. Apa yang harus kulakukan untuk menebusnya?”

Pria itu membuka cadarnya dan Kinari sangat terkejut.  Pria itu ternyata Mansa Musa, majikannya, Tuan dimana dia ikut bekerja selama ini.  Mansa Musa tersenyum dan berkata,

“Karung itu aku yang mengambilnya semalam.  Aku melihatmu memiliki kepribadian yang sangat berbeda dibanding wanita-wanita yang lain. Kau memperkenalkan diri terlebih dahulu, kau berinisiatif menanyakan isi barang itu, kau juga cerdas mengusulkan menimbang koin emas ketimbang menghitungnya. Kau juga bijaksana memikirkan cara melindungi emas itu disaat kau kelelahan, dan kau juga bertanggung jawab mengakui kesalahan dan bersedia menebusnya.  Kinari.. katakan padaku, kehidupan macam apa yang telah kau lalui selama ini, sehingga diusiamu yang masih muda, kau sudah sangat dewasa dan berhati mulia?”

Beberapa bulan kemudian Mansa Musa menikahi Kinari Kunate.  Mansa Musa, seumur hidupnya dikenal sebagai pria terkaya sepanjang sejarah, jauh lebih kaya dari Bill Gates.  Kekayaannya disebutkan “tidak bisa dihitung” dan istrinya Kinari Kunate sangat dihormati dan disegani oleh para pekerja Mansa Musa. Inari Kute, memiliki 500 pembantu yang siap melayaninya. [TSINRIMF.  Ronee Paul.]

Dr. Ronny Sucahyo

Note: Artikel ini juga pernah saya muat di http://www.topendology.com/2016/10/13/inari-kute-seorang-wanita-yang-lebih-mahal-dari-emas/

Leave a Reply