www.Dr-RonnySucahyo.com

Kita Adalah Pelukis Garis Lengkung

Dapatkah uang 100 Ribu membeli kebahagiaan?

Malam itu (sekitar tahun 2010) tujuanku hanya satu, pergi ke Galaxy Mall dan mentraktir anak-anak penjual koran disana.  Malam itu adalah kesekian kalinya aku kesana.. “Gung, aku sudah di parkiran.. tunggu aku ditempat biasanya..” ketikku di SMS pada Agung, remaja tertua disana waktu itu, 18tahun.

Agung  tersenyum ramah memandangku, tanpa berani mengulurkan tangannya.  Mungkin takut mengotori tanganku.

Ku peluk bahunya dan berkata, “gimana kabarmu? anak-anak sudah ngumpul?”

“Baik, Mas.. banyak yang tidak bisa datang hari ini..” jawabnya.  “Lho kenapa?” tanyaku.

“ada yang sakit, ada yang ujian sekolah..” jawabnya.  Aku menganggukkan kepala. Kami berjalan menuju food court Galaxy Mall, membeli beberapa bungkus makanan lalu turun dan bertemu remaja-remaja disana.  Ada sekitar 6 orang yang datang.

“Mas..” sapa beberapa anak yang masih berusia 9-15 tahun.  “halo dik.. ayo makan..” kataku.

Sehabis makan-makan, Agung mengantarku ke parkiran mobil.  “Mas, terima kasih banyak ya. kalo mas nya mau, besok atau kapan, Agung yang traktir mas nya makan..” katanya.

Aku terkejut sesaat lalu tersenyum, “akhirnya..” kataku.  Dia tertawa.  “Iya mas, dari dulu mas nya ngajarin saya tapi saya belum ada uang..” kata Agung.  “Aku kan ga ngajarin kamu, Gung.. aku lho nodong kamu kapan traktir aku?” kataku.  Agung tertawa. “Podo ae Mas..”

Sepulang dari GM, hujan turun dengan derasnya. Aku menjalankan mobilku perlahan, menuju sebuah U-Turn, menurunkan kaca mobilku, dan mendengar seorang pengendara mobil didepanku berteriak marah pada ‘polisi cepek’ alias seorang pria muda yang membantu para pengendara mobil untuk berputar.  “Ga butuh awakmu! malah garai macet!” bentak pengendara itu.  Aku menggelengkan kepala.  Pemuda itu tak membalas, dia hanya diam dan terus melambaikan tangannya berusaha membantu mengatur arus lalu lintas.

Aku memutar mobilku, mengambil  selembar lima ribu dan Kuberikan uang itu. Moment berikutnya sulit kulupakan.  Pemuda itu menatap wajahku dan sebuah senyum muncul diwajahnya.  “Terima kasih, Mas..” katanya.

Mungkin aku tak akan pernah bertemu lagi dengannya.

Hujan makin lebat.. Surabaya semakin macet.  Kota yang ternyata nomor 4 di dunia macetnya ini (according to castrol’s magnatec stop-start index), membuatku sangat hati-hati menyetir.  Beberapa pengendara mobil nampaknya sangat kebelet pipis atau mami be’ol, sampai menyerobot dan memotong laju mobilku. Aku iseng mengambil kamera HPku, lalu mulai memotret beberapa plat nomor mobil yang kebelet pipis itu. So funny moment!

Sekitar 50 meter berikutnya aku melihat 2 orang pengendara mobil yang ribut dipinggir jalan, mungkin baru saja serempetan.  Wajah mereka terlihat sangat marah dan saling menuding.  Wah, semoga mereka tidak pup di celana..

Aku berhenti di ujung jalan, beli dua bungkus nasi goreng seharga 8000 rupiah, lalu kembali menuju rumahku.

Masih agak jauh dari perumahanku, aku turun dan menyerahkan 2 bungkus nasi goreng pada seorang tukang becak yang entah kenapa masih setia menunggu pelanggan ditengah hujan lebat.

“Makan Pak..” kataku.  “Makasih Mass…” jawabnya sambil tertawa.

“Minumnya air hujan aja ya pak.. segarr..!!” jawabku sambil ikut tertawa.

“Iyoo.. hahaa..” dia tergelak.   Hujan mengguyur tubuh kami berdua. “Wah sampeyan teles kabeh mas..” katanya.

“garek di sabuni ae pak, hemat banyu!” (tinggal diberi sabun saja pak, hemat air),  jawabku membuat tawanya makin keras.

Mungkin aku tak akan pernah bertemu lagi dengannya.

Aku tiba di rumah, mandi, lalu ke meja makan.  Aku masih harus melukis sekali lagi, dengan  memakan masakan pembantuku sampai habis, karena dia sudah susah payah memasaknya untukku.

Sampai ratusan malam berikutnya, aku masih mengingat malam itu setiap kali aku belajar tentang betapa sederhananya kebahagiaan.

Aku hanya perlu melakukannya pada minimal satu dari setiap orang yang bertemu denganku setiap hari – orang yang mungkin tak akan pernah kutemui lagi selamanya seperti tukang becak itu, dan melukis sebuah garis lengkung yang sangat indah di bibirnya.

Kita adalah pelukis kebahagiaan. Jika kau setuju.. lakukanlah.. ke 1 orang yang kau temui hari ini.

 

Dr. Ronny Sucahyo

Leave a Reply