www.Dr-RonnySucahyo.com

GOD ANOINTED LEADERSHIP THEORY Part 1/2

GOD ANOINTED LEADERSHIP

Mazmur 18:50 (18-51) Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya,  yaitu Daud  dan kepada anak cucunya untuk selamanya.

Teori saya mengenai kepemimpinan adalah God Anointed Leadership, dengan thesis statement sebagai berikut:

“Tidak ada teori kepemimpinan yang sempurna, tidak ada pemimpin yang sempurna.  Pemimpin yang dipilih Tuhan, diurapi Tuhan, diberkati dengan satu kualitas yang menonjol, untuk  memimpin dengan hebat oleh pertolongan Tuhan.”

 

TIDAK ADA TEORI KEPEMIMPINAN YANG SEMPURNA

Teori kepemimpinan sudah sangat banyak ditulis oleh banyak penulis hebat.  Dr. David Rock dengan Neuroscience Leadership, Harsey dengan Situational Leadership, Rensis Likert dengan Four Main Leadership Styles, Vroom dan Yetton dengan Normative Model of Leadership, Fidler dengan Least Preferred Co Worker Theory, Kouzes dan Posner dengan Leadership Participation Inventory,  Bass dengan Tranformational Leadership Theory, serta masih banyak teori kepemimpinan lain, misalnya Great Man Theory, Trait Theory, Behavioural Theories, Participative Leadership Theories, Cognitive Resources Theory, Strategic Contingencies Theory, Servant Leadership  dan Transactional Leadership.  Semua teori memiliki sudut pandangnya masing-masing. Beberapa teori sudah dianggap usang seperti Great Man Theory yang dipopulerkan pada tahun 1840 oleh penulis Thomas Carlyle. Teori ini sudah tidak dipelajari dan dipraktekkan hari ini.

Trait Theory Leadership yang muncul berdasarkan premis bahwa ‘pemimpin dilahirkan bukan dibentuk” pada tahun 1948, ternyata terus diteliti sampai di era modern.  Judge dan Bono pada tahun 2004 melaporkan bahwa 12% dari semua penelitian tentang kepemimpinan menggunakan kata kunci “personality”. Kritik terbesar untuk teori ini adalah teori ini gagal pada pendekatan yang sederhana, dimana teori ini tidak memperhitungkan faktor eksternal dari keberhasilan seorang pemimpin.  Misalnya faktor situational dan lingkungan.  Penelitian terbaru pada tahun 2007 oleh Avery, Zhang, Avolio, Kruegar menunjukkan bahwa faktor keturunan hanyalah menyumbang 30% pada kualitas kepemimpinan.  Ini artinya 70% faktor kepemimpinan adalah eksternal. Berdasarkan penelitian ini dan beberapa penelitian yang lainnya, trait theory leadership mulai ditinggalkan dan para peneliti lebih cenderung lebih setuju ke arah behavioural theories leadership yang juga berkembang di era 1950an.

Behavioural theories leadership memiliki 2 hal besar yaitu task oriented leadership dan people oriented leadership.   Pada tahun 1950, Dipimpin oleh psikolog organisasi terkenal, Dr. Rensis Likert, studi kepemimpinan di University of Michigan mengidentifikasi tiga karakteristik kepemimpinan yang efektif; dua di antaranya sebelumnya diamati dalam studi yang telah dilakukan di Ohio State University. Studi tersebut menunjukkan bahwa “task oriented” dan “people/relationship oriented” bukanlah signifikansi utama dalam dunia psikologi organisasi. Namun itu adalah pengamatan ketiga yang akhirnya mengenalkan konsep baru, yaitu participative leadership/democrative leadership style.

Dari berbagai macam teori kepemimpinan yang sudah ada, dapat disimpulkan bahwa tidak ada teori yang sempurna.  Semua peneliti menghadapi keterbatasan scope, waktu dan subyek-obyek yang diteliti. Contingency theory yang berkembang, salah satunya menjadi Situational Leadership di satu sisi sangat praktis, tetapi juga tidak sempurna. Salah satu kritik datang dari Olumide Aina, CEO Green Facilities Limited.  Aina mengatakan “Can we now say this theory of leadership believes that competency is drawn from ones attitude and disposition towards issues or challenges? This unanswered question made me to look through the words of Richard (2008) who stated that Situational Theory focuses on the characteristics of followers as the important element of the situation, and consequently of determining effective leader behaviour.  Singkatnya, Aina mengatakan, Situational leadership terlalu fokus pada karakter followers dan itu mempengaruhi perilaku pemimpin yang efektif.       

 

SERVANT LEADERSHIP

Menurut wikipedia, Servant leadership adalah filosofi kuno. Ada beberapa bagian yang berhubungan dengan kepemimpinan pelayan di Tao Te Ching, yang dikaitkan dengan Lao-Tzu, yang diyakini telah tinggal di China sekitar tahun 570 SM dan 490 SM:

Jenis penguasa tertinggi adalah salah satu keberadaannya yang hampir tidak diketahui orang.
Selanjutnya datanglah orang yang mereka sayangi dan puji.
Selanjutnya datanglah orang yang mereka takuti.
Selanjutnya datanglah orang yang mereka benci dan tolak.
Bila Anda kurang beriman,
Orang lain tidak setia kepada Anda.
Sage itu tidak menonjolkan diri dan sedikit kata-kata.
Ketika tugasnya selesai dan semuanya telah selesai, Semua orang berkata, ‘Kami sendiri telah mencapainya!’

Servant Leadership dapat ditemukan di banyak teks agama, meskipun filsafat itu sendiri melampaui tradisi keagamaan tertentu. Dalam tradisi Kristen, bagian dari Injil Markus 10:42-45 sering dibahas sebagai konsep Servant Leadership.

 

Markus 10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,  10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. 10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani x  dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan  bagi banyak orang. “

James Sipe dan Don Frick, dalam buku mereka The Seven Pillars of Servant Leadership, menyatakan bahwa servant leader adalah individu yang memiliki karakter, menempatkan orang lebih dulu, adalah komunikator yang terampil, adalah kolaborator yang penuh kasih sayang, menggunakan pandangan ke depan, adalah pemikir sistem, dan menjalankan otoritas moral.

Joe Iarocci, pengarang Servant Leadership in the Workplace, mengidentifikasi 3 prioritas utama (mengembangkan orang, membangun tim yang percaya, mencapai hasil), 3 prinsip utama (melayani pertama, persuasi, pemberdayaan) dan 3 praktik utama (mendengarkan, mendelegasikan, menghubungkan pengikut untuk misi) yang membedakan kepemimpinan pelayan dalam konteks tempat kerja.

Kent Keith, penulis The Case for Servant Leadership, menyatakan bahwa kepemimpinan pelayan bersifat etis, praktis, dan bermakna. Dia mengidentifikasi tujuh praktik utama para pemimpin pelayan: kesadaran diri, mendengarkan, mengubah piramida, mengembangkan rekan kerja Anda, melatih tidak mengendalikan,

melepaskan energi dan kecerdasan orang lain, dan pandangan ke depan.

           Center for Servant Leadership di Pastoral Institute di Georgia mendefinisikan kepemimpinan pelayan sebagai perjalanan seumur hidup yang mencakup penemuan diri sendiri, keinginan untuk melayani orang lain, dan komitmen untuk memimpin. Para pemimpin pelayan terus berupaya agar dapat dipercaya, sadar diri, rendah hati, peduli, visioner, memberdayakan, relasional, kompeten, pelayan yang baik, dan pembangun masyarakat.

Walaupun terus dikembangkan, Servant leadership juga memiliki kekurangan yaitu pertama, membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa diaplikasikan.  Kedua, kemampuan untuk mengontrol team dirasakan sangat kurang.

bersambung ke Part 2

 

Dr. Ronny Sucahyo

 

Leave a Reply