www.Dr-RonnySucahyo.com

Pengkhotbah Yang Membosankan dan Menyiksa

Ada sebuah film berjudul Mondo Cane yang menampilkan adegan yang mengganggu: Peternak menjejalkan makanan ke angsa untuk membuat Pâté de Foie Gras.  Dengan sodokan-sodokan kasar menggunakan tongkat, peternak secara harafiah menjejalkan makanan ke tenggorokan angsa malang itu. Ketika angsa mulai akan muntah, satu cincin kuningan dikencangkan di sekitar tenggorokan sehingga menahan makanan itu di dalam saluran pencernaan. Makanan itu dijejalkan lagi dan lagi sehingga kelebihan asupan gizi semacam itu akhirnya menghasilkan liver yang penuh, yang memuaskan para koki di seluruh dunia. Tidak ada manfaat bagi si angsa sendiri, dia disiksa dan dikorbankan atas nama kelezatan.

Foie gras dianggap sebagai produk makanan mewah yang terbuat dari hati bebek atau angsa yang telah digemukkan. Menurut hukum Perancis, foie gras didefinisikan sebagai hati bebek atau angsa yang digemukkan dengan memaksa makan jagung melalui selang makanan. Proses ini disebut dengan gavage. Di Spanyol dan negara-negara lain, kadang-kadang diproduksi menggunakan pakan alami. Bebek dicekok dua kali sehari selama 12,5 hari dan angsa tiga kali sehari selama sekitar 17 hari. Bebek biasanya disembelih pada hari ke 100  dan angsa pada hari ke 112.

Pembicara (guru, coach, pengkhotbah) yang buruk, salah satu kesalahannya adalah membosankan. Salah satu sebab mengapa mereka membosankan adalah memberikan informasi yang terlalu banyak tanpa cukup waktu bagi audiens, murid dan jemaat untuk memahami informasi-informasi itu. Ada banyak pemberian asupan secara paksa dan sedikit kesempatan untuk mencerna.  Tidak ada manfaat bagi jemaat, murid, audiens. Mereka ‘disiksa’ dan dikorbankan atas nama kemudahan berbicara sebebasnya oleh si pembicara.

Para pengkhotbah atau pembicara yang sudah begitu akrab dengan topik yang dikuasainya seringkali lupa rasanya menjadi orang awam. Sebagian dari mereka begitu suka berbicara sampai melupakan tugas-tugas utama pembicara  adalah materi yang bias dipahami dan “dibawa pulang” oleh audiens.

Salah satu aturan dasar dari kemampuan otak audiens yang seharusnya dikuasai setiap pembicara adalah aturan 10 menit.  Fakta ilmu otak: Otak audiens hanya punya waktu 10 menit untuk berkonsentrasi.  Medan perang setiap pembicara untuk menarik perhatian audiens adalah 10 menit. Setiap 10 menit, Anda harus berjuang lagi merebut perhatian mereka untuk 10 menit berikutnya.  Jika Anda berkhotbah atau mengajar selama 40 menit, Anda punya 4 babak x10 menit untuk mendapatkan perhatian mereka. Tetapi jika Anda hobi khotbah Panjang dan lama, misalnya 60 menit, sadarilah bahwa tugas Anda makin berat karena ada 6 babak x 10 menit dimana Anda berisiko kehilangan babak yang manapun.  Jangan-jangan Anda hanya berhasil menarik perhatian di 10 menit pertama, setelah itu 30-50 menit berikutnya Anda menyiksa audiens Anda dengan informasi yang terlalu banyak.

Lalu apa yang harus dilakukan setiap 10 menit untuk merebut perhatian audiens?  Anda harus menciptakan Cerita atau  peristiwa-peristiwa yang sarat emosi. Ini tidak mudah.  Harus didesain, harus direncanakan. Apakah selama ini khotbah Anda terdesain dengan baik, terencana dengan baik, ataukah khotbah spontan dan Anda memaksa audiens untuk mendengarkan Anda selama 40-60 menit dengan menjadi pengkhotbah yang membosankan?

 

Dr. Ronny Sucahyo

Leave a Reply