www.Dr-RonnySucahyo.com

Dua Jenis Penderitaan Di Dunia

Suatu hari disekitar tahun 2000, saya berkunjung ke sebuah Rumah Sakit, menemui seorang pria kepala cabang sebuah distributor mobil Toyota yang terbaring lemah karena kanker yang dideritanya. Dengan pelan karena posisi saya sangat dekat dengan telinganya, saya bertanya, “Ko, apa yang koko paling sesali hidup di dunia ini?”

Beliau dengan menahan nyeri yang dirasakannya, menjawab “kesombongan. Semua yang aku punya hari ini tidak ada artinya”

Beliau meninggal dua bulan setelah pertemuan kami, tetapi kalimat penyesalannya terus terngiang di pikiran saya sampai hari ini.

Pertemuan itu menginspirasi saya menuliskan lagu yang liriknya begini:

Sungguh mati ku tak mau, terbangun di suatu hari 

Dengan tubuh yang tua renta, dan ku bukan siapa-siapa

Sungguh gila ku tak mau, menyesali hidupku

Karena ku tak pernah berjuang tuk masa depanku

     Aku akan bertahan, tak akan menyerah

     Mengejar semua mimpiku sampai batas usiaku

     Kukalahkan kau lelah, tak akan kupatah

     Meraih semua mimpiku, terukir di hidupku

 

Ketika saya flashback perjalanan hidup saya, rasa syukur ini tak terhingga. Melihat deretan ribuan buku di rumah saya, foto pernikahan dan foto wisuda S3 saya, kehangatan hubungan saya dengan orang tua dan pelayanan serta pekerjaan yang diijinkan Tuhan terjadi di dalam hidup saya, saya tak pernah membayangkannya akan saya alami hari ini.

Memang semuanya boleh ada hanya karena anugrah Tuhan.  Tetapi ada secuil bagian kita yang bernama ‘keputusan’ untuk menderita.

Ada quote menarik dari Jim Rohn “We must all suffer one of two things: the pain of discipline or the pain of regret or disappointment.”

Ada dua jenis penderitaan di dalam dunia ini,

  1. Penderitaan karena disiplin
  2. Penderitaan karena menyesal/kecewa

Saya pernah dan akan selalu memilih penderitaan karena disiplin.  Jika kita keras pada diri sendiri, dunia akan jauh lebih mudah untuk kita tinggali.  Jika kita lemah pada diri sendiri, dunia akan begitu keras menghajar kita.

Jangan pernah menunda-nunda, malas, hidup tanpa tujuan dan tanpa rencana.

2 Tim. 1:7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan,  melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Kata “ketertiban” dari Bahasa Yunani  “Sophronismos” artinya self-discipline, sound mind = kapasitas untuk berpikir, bernalar, memahami diri sendiri.  Dalam Bahasa sederhana, “cara berpikir dewasa yang muncul dari dirinya sendiri, tanpa paksaan dari orang lain.”

 

Dr. Ronny Sucahyo

 

Leave a Reply