www.Dr-RonnySucahyo.com

Anda Punya Kewajiban Mengunyah Lengkuas

Pagi ini karena terburu-buru mau ke KPU mengambil formulir A5 untuk pemilu, saya secara tidak sengaja mengunyah sepotong besar lengkuas yang ada di piring nasi Rawon saya. Lengkuas itu tidak sengaja saya ambil dengan sendok karena mata saya sedang menatap laptop, membaca artikel kemenangan GM Hikaru Nakamura dalam US Chess Championship 2019 yang spektakuler karena ada pesaing-pesaing berat seperti GM Fabiano Caruana, GM Wesley So dan GM Leinier Dominguez.

Saya mengunyah lengkuas/laos itu beberapa kali sampai otak saya menyadari bahwa saya tidak sedang mengunyah daging sapi yang seharusnya saya kunyah. Entah kenapa, tiba-tiba saya menyadari sesuatu.  Saya tetap mengunyah lengkuas itu dan mencoba merasakan rasa lengkuas yang sebenarnya. Saya kunyah pelan-pelan dan mencoba menikmati (walaupun tidak nikmat) dan hasilnya, saya memahami bagaimana rasa lengkuas itu memberikan efek pada rasa rawon yang secara umum.

Saya jadi mengenali,  “oh, aroma dan rasa inilah yang dihasilkan oleh lengkuas, yang membuat rawon memiliki rasa yang demikian!”

Tak lama kemudian saya menemukan beberapa potong bawang putih di kuah rawon itu dan saya mulai mengunyahnya juga.  Dan kali ini saya makin mengerti bagaimana bawang putih menyumbang rasa tertentu pada  kuah rawon -karena saya sudah mengerti terlebih dahulu bagaimana lengkuas menyumbangkan rasanya.

Kisah tidak sengaja pagi ini memberikan inspirasi pada saya.  Seharusnya setiap orang yang serius belajar masak, harus berani mengunyah lengkuas, mengunyah jahe, mengunyah kemiri dan bumbu lain untuk benar-benar memahami cita rasa bumbu tersebut, untuk kemudian mampu menyadari kehadirannya ketika sudah tercampur dengan bumbu-bumbu lain, tergantung masakan apa itu: Rawon, Soto, Lodeh, Gulai, Kari, dan lain-lain.

Di bidang yang lain juga demikian.  Mengunyah lagu demi lagu bagi penyanyi.  Mengunyah buku demi buku untuk penulis, pembicara dan pengkhotbah.  Mengunyah warna demi warna, bentuk demi bentuk, untuk designer dan arsitek. Mengunyah jam-jam penelitian dan praktek di laboratorium, menghafalkan ribuan kosa kata latin dan buku-buku tebal untuk dokter -bukan mengunyah obat.  Semakin rumit dan berat tanggung jawab Anda, semakin banyak  bahan yang harus Anda kunyah.

Apa jadinya setiap professional yang tidak mau mengunyah? tumpul, dangkal, bodoh, tetapi sok tahu, sok mengerti dan sok pintar.  Mengunyah lengkuas itu tidak enak rasanya, begitu juga dengan mengunyah beberapa bagian dari proses hidup kita. Tetapi Kita memang harus mengunyah lengkuas kita.

Jika Anda seorang professional, kunyahlah, resapi rasa setiap bahan, teliti apa jadinya jika dicampur dengan bahan lain sesuai takaran tertentu. Mengertilah semakin dalam dan akhirnya engkau akan menjadi seorang pakar di bidangmu.

Mazmur 34:8, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!”

Waktu yang benar-benar kau miliki adalah sekarang. Kunyahlah lengkuasmu, sekarang.

Dr. Ronny Sucahyo.

Leave a Reply